Friday, September 29, 2006

RENUNGAN ON RAMADHAN (RoR): GENERATOR PROTECTION

Memetik kata-kata Hudzaifah bin Yaman R.A [1], “Sungguh akan datang satu zaman atas manusia di mana tak ada seorang pun yang selamat dari fitnahnya kecuali yang berdoa seperti doanya orang yang (akan) tenggelam.”

Kata-kata sang “seteru kemunafikan, kawan keterbukaan”[2] itu ternyata terbukti benar hendaknya. Lihatlah sahaja fitnah dan tohmahan yang dilemparkan terhadap Islam, satu demi satu, bertalu-talu, seakan-akan Islam adalah “bantal penumbuk” yang digunakan sang peninju. Belum pun pulih luka umat Islam lantaran kartun kartunis Denmark yang menghina Nabi SAW tercinta, kini sang pemimpin agama Vatican, Pope Benedict pula menggores luka baru dengan penghinaan yang sungguh menghiris hati siapa saja yang telah menyatakan cinta pada ALLAH, cinta pada RasuluLLAH, dan cinta pada deen Islam yang mulia ini.

Hal ini diparahkan lagi dengan fitnah berupa gelombang murtad yang melanda negara ini, sehingga mencatat rekod dunia (barangkali) sebanyak 250,000 orang, ditengah-tengah gelombang pemelukan Islam beramai-ramai yang berlaku di Barat. Aduh….. fitnah apa lagi yang lebih besar daripada ini, wahai saudaraku? Aduh…. Adakah fitnah yang sebesar ini akan menjadi “kad jemputan” untuk azab dan bala bencana muncul tiba?

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
(Surah al-Anfal [8]:25)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya".
(Surah al-Isra’ [17]:16)

Saudaraku,

Apakah yang telah kita perbuat untuk mencegah fitnah besar yang menimpa umat Malaysia kita ini? Apakah yang telah kita perbuat sebagai “protection” demi menjaga kesucian dan kemuliaan agama Islam kita yang tercinta?

Sahabat,

Dengarkan. Tidakkah kau dengar suara rayuan saudaramu di belahan bumi Palestin, yang merayu simpati mu, untuk menghalang kekejaman bangsa Yahudi Zionis yang tak henti-henti berbuat binasa? Atau, dikau terus-menerus menyumbangkan peluru buat bangsa Zionis ini, dengan membeli produk barangan yang tetap membantu bangsa kera yang hina ini?

Sahabat,

Dengarkan. Tidakkah kau dengar pekikan suara pope itu ketika mana ia menghina Islam, dan sekadar menyatakan “I’m sorry” kemudiannya sebagai tanda kekesalan, tanpa langsung menyebut “I apologize” sebagai bukti penyesalan dengan meminta maaf kepadamu. Atau, dirimu tidak kisah andainya Nabi mu yang mulia dihina, sedangkan baginda sanggup menerima caci maki, balingan batu, anak panah dan sebagainya, agar cahaya Islam ini sampai kepada diri kalian semua?

Sahabat,

Fikirkan. Bukankah tujuan hadirnya Islam, adalah menolak kemafsadan (kerosakan) dalam rangka memelihara kemaslahatan? [3] Lalu, kenapa dikau biarkan gejala murtad menimbulkan kerosakan dan kebinasaan serta penghinaan terhadap agamamu?

Maka, kenapakah hukuman terhadap orang murtad terlalu keras? Sebab sepertimana generator perlukan “protection system”nya, jika “protection” ini tiada, akan rosak binasalah generator itu. Maka sedemikian jugalah hukuman terhadap murtad, ianya sebagai “protection” untuk memelihara kehormatan dan ketinggian agama ini.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menjaga akidah pemeluknya dan menolak segala tindakan mempermain-mainkan agama. [4] Tetapi kalian saksikan sahajalah fitnah yang menimpa umat kini, berapa ramai orang yang mempermain-mainkan agama? Berapa ramai kuffar yang menghina agama?

Bukankah duduknya dirimu di kerusi empukmu sekarang adalah hasil kurnia dan kemurahan ALLAH, maka mengapa tidak dikau balas dengan membantu membela agama-Nya?

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Surah Ibrahim [14]:7)

Ya ALLAH, jadikanlah kami “protection system” kepada agama kami, kurniakanlah kekuatan dan keteguhan di hati kami, jadikanlah kami sentiasa dalam keadaan mengingati-Mu dan bersyukur kepada-Mu, dan peliharalah kami daripada api Neraka. Lindungilah umat ini dari azab dan bala.

“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak..”
(Surah at-Taubah [9]:82)

Seumpama inilah Ramadhan terakhir kita…isilah ia kerana tiada lagi peluang bagi kita selepas ini.

Sebagai peringatan bagi diri ini dan sahabat semua…

RUJUKAN

[1] Majalah “Tarbawi”, Edisi 39 18 Juli 2002, ruangan Dirosat, ms. 5

[2] Khalid Muhammad Khalid, “Karakteristik Perihidup Enampuluh Sahabat Rasulullah”, Victoria gencie (1994)

[3] Dr. Yusuf al-Qardhawi, “Panduan Memahami Syariat Islam”, Pustaka Ilmi (1998), ms. 82

[4] Riduan Mohamad Nor, Mohd Asri Nat Daud, “Murtad: Implikasi Hukum dan Fenomena”, MHI Publication (2006) ms. 27. Untuk perbahasan lebih lanjut, silakan membaca buku Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi, “Ciri-ciri unggul masyarakat Islam yang kita idamkan,” Penerbitan Seribu Dinar (2000) ms. 48-51

Thank you.

Best Regards,
Faridul Farhan Abd Wahab
Electrical Engineer
Jimah O&M Sdn. Bhd.
Email:
faridul@jimahev.com

"…like the darkness of a fathomless sea which is covered by waves above which are waves above which are clouds…"
-the Holy Quran on internal waves in the sea, 1400 years ago. Miracle!
p/s - RoR adalah singkatan kepada "Record of Revision", borang rasmi untuk kami isikan komen-komen kami semasa drawing design review. Serial email RoR ini pula adalah email berupa tazkirah rutin yang penulis sampaikan kepada rakan-rakan sepejabat, dari COO (Chief Operation Officer) sehinggalah kerani/secretary dan sebagainya, sepanjang bulan Ramadhan. Doakan mudah-mudahan tazkirah ringkas ini bisa berbekas di hati mereka.

Thursday, September 28, 2006

Kesepakatan Palestin, Citarasa Amerika ?

(Gambar): Awas! Gambar untuk 18 tahun ke atas sahaja (18SX)

Rabu , 27/09/06 -Setiausaha Agung fraksi Perubahan dan Reformasi (Hamas) di parlimen Palestin menuduh beberapa pihak Palestin melakukan usaha mencapai kesepakatan politik baru sesuai citarasa Amerika setelah Presiden Bush menolak “piagam kesepakatan nasional Palestin”.

Beliau menambah, ada kumpulan yang berusaha mengheret kita untuk mengikuti program politiknya sehingga kami mengiktiraf Israel. Misri menambah, untuk mencapai tujuannya kumpulan ini berusaha mewujudkan keadaan kacau bilau yang akhirnya menggagalkan usaha pembentukan kerajaan perpaduan nasional Palestin. Pihak kerajaan juga akan dituduh tidak mempunyai kredibiliti.

Kini fraksi-fraksi Palestin diheret sama untuk menyepakati format baru kerajaan campuran yang sesuai dengan citra Amerika dan Kumpulan Kuartet.

Sumber Berita: palestinkini.info
Sumber Gambar: www.infopalestina.com

Wednesday, September 27, 2006

Reminder of Ramadhan (RoR): Iklan Bola Celcom

Reminder of Ramadhan (RoR): Iklan Bola Celcom

Umar bin Abdul Aziz suatu ketika berjalan bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Di tengah perjalanan, mereka melewati malam yang gelap gulita, diiringi angin kencang, petir dan kilat di langit sehingga mereka merasa tercekam ketakutan dengan suasana itu. Tapi, tiba-tiba saja Umar bin Abdul Aziz tertawa kecil. Sulaiman bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa ya Umar?” Ia menjawab, “Tidakkah kau lihat apa yang kita alami sekarang. Gelapnya malam, deru angin yang kencang, kilat dan petir, semuanya adalah tanda-tanda kasih sayang ALLAH. Bagaimana dengan tanda-tanda kemarahan dan kemurkaan-Nya?”[1]

Alur berpikir orang-orang shalih sangat membuatkan kita kagum. Logika mereka, tak pernah luput mengaitkan peristiwa dunia dengan iman. Pandangan dan perenungan mereka di dunia selalu terorientasi pada keakhiratan. Kehidupan dunia, pasti berakhir pada Akhirat. Itulah kunci keimanan yang mewarnai pikiran para salafus shalih. Mereka melihat dunia, daripada “jendela Akhirat.”

Begitulah seharusnya diri orang Mu’min itu. Seperti orang yang ketagihan cinta, lalu melihat wajah sang kekasih pada setiap masa, maka sebegitulah juga harusnya orang beriman. Ke”angau”annya pada kehidupan Akhirat, menyebabkannya melihat “murah” kehidupan dunia. Kecintaannya pada kemulian Syurga, membuatkannya memandang remeh kehidupan yang fana. Ketaksubannya pada kehidupan Akhirat nan abadi, membuatkannya memandang enteng kesementaraan kehidupan dunia. Padanya, dunia sekadar modal untuk “berniaga” meraih keuntungan di Akhirat.

Umpama iklan Celcom tidak lama dahulu, di mana pada setiap sesuatu, terbayang hal-hal berkaitan bola sepak pada kaca mata para “pemabuk” dan fanatic bola ini. Lihat meriam, teringat “the Gunners” Arsenal. Lihat stesen bas, teringat pemain simpanan. Lihat orang tebar roti canai, teringat penjaga gol.

Maka, para “pemabuk” cinta ALLAH dan fanatic kemuliaan Akhirat, pasti melihat kebesaran ALLAH di mana sahaja, hatta pada “power plant” di dalam jasad mereka sendiri.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
(Surah al-Fushilat [41]:53)

Saudaraku,
Tidakkah kalian nampak keagungan dan kehebatan “ALLAH’s engineering” pada peredaran siang dan malam, atau pada setiap sudut kehidupanmu, untuk dikau kembali merasakan keterikatan dan ketergantungan dirimu pada keesaan-Nya?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(Surah Ali Imran [3]:190-191)

Marilah kita sama-sama menjadi “mat pit Akhirat”, yang ketagihan beribadah kepada-Nya, dan kerasukan untuk syahid di jalan-Nya. Mudah-mudahan kehadiran Ramadhan pada tahun ini, bisa mencuci kembali karat noda di hati, lalu kita bisa berjalan menuju keredhaan Ilahi, dan ALLAH juga “berlari-lari” mendapatkan kita.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”
(Riwayat Muslim)[2]

Seumpama inilah Ramadhan terakhir kita…isilah ia kerana tiada lagi peluang bagi kita selepas ini.

Sebagai peringatan bagi diri ini dan sahabat semua…


RUJUKAN

[1] Majalah “Tarbawi”, Edisi 41 15 Agustus 2002, ruangan “Ruhaniyat”, ms. 60
[2] No hadis dalam kitab shahih Muslim: 4832. Rujuk web www.al-islam.com

Thank you.

Best Regards,
Faridul Farhan Abd Wahab
Electrical Engineer
Jimah O&M Sdn. Bhd.
Email:
faridul@jimahev.com

“Yes, We are able to put together in perfect order the very tips of his finger"
-the Holy Quran on the identity in the fingerprint, far before CSI was even establish!

Friday, September 22, 2006

CONTRACT

CONTRACT
Engr. Faridul Farhan Abd Wahab
(This article was written 2 days ago, while our presentation wasthis morning. AlhamduliLLAH, we manage to proceed well.)


I am one out of the three engineers in my company who will give a presentation to the rest of the staff on “Engineering, Procurement & Construction Contract.” The motive of the presentation is to educate the young and fresh engineers here the importance and the story relating to contract. With only 2 days more for our presentation, I myself am wondering whether I am really fit to present this topic or not, as I as an engineer is for certain, not a master when it comes to contracts and other legal stuff. So, what have I learnt so far since preparing for the presentation?

A contract –by right- is an agreement binding two or more parties, which each party involved should fulfill what is agreed upon both parties as stated in the contract. Therefore, there will be obligations for each party to enhance in order to fulfill the main objective which is stipulated in the contract.

Dear brothers,
Did you ever realize that we human beings are in fact involved in these so called contracts, even as we are saying now? Each and every one of us has signed an “agreement” with our Creator even before we were born!

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
(Surah al-A’raf [7]:172)

Therefore, it is our duty to fulfill the obligations written in the “contract” by obeying His orders and preventing ourselves from misleading to his prohibits, and therefore obtain a happy and worthy life.

Among the obligations which we’ve agreed upon with our Lord are as follow:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
(Surah adz-Dzariat [51]:56)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". …”
(Surah al-Baqarah [2]:30)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Surah ali Imran [3]:104)

Now, my dear brothers, have we fulfill all our obligations and furthermore receive “Performance Bond” in the likes of Heaven, or are we going to get “Liquated damages” for opposing what is forbidden to us as stated in the “contract”? Think wisely and may this coming Ramadhan bring us back to “fitrah” as stipulated in the Quran and Sunnah.

Tuesday, September 19, 2006

ANNUAL LEAVE

ANNUAL LEAVE
faridul.blogspot.com


Anda yang sudah berkerjaya, berapa harikah cuti tahunan, atau bahasa omputihnya “Annual Leave” yang dikurniakan kepada anda? Sudahkah anda merancang, bagaimana dan bilakah anda bercadang menggunakan cuti tahunan tersebut?

Kebiasaannya, insan-insan yang sudah berkerjaya ini akan menggunaka Annual leave mereka untuk balik kampung. Atau pergi melancong di kala cuti sekolah bersama keluarga. Atau untuk membaiki kereta, atau membayar bil-bil hutang, dan lain-lain sebab musabab yang semuanya menjurus kepada satu tujuan; jika bukan untuk urusan peribadi, setidak-tidaknya demi keluarga yang mereka cintai.

Berapa ramaikah di kalangan kita yang telah mempersiap dan merezebkan annual leavenya untuk kegiatan da’wah yang membawa manfaat kepada umat? Misalnya sekian banyak hari telah ia sediakan untuk digunakan demi menjayakan program motivasi misalnya. Atau, setidak-tidaknya, mengambil cuti demi membolehkannya beriktikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, demi meraih Lailatul Qadr yang penuh barakah. Ya, Lailatul Qadr itulah suatu yang jauh lebih berharga berbanding “duit raya” mahupun bonus yang dikejar-kejar oleh manusia yang bergelar pekerja.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadr).
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(Surah al-Qadr [97]:1-5)

Sayang seribu kali sayang, di Negara tercinta bernama Malaysia, budaya beriktikaf mencari al-Qadr di 10 malam terakhir Ramadhan, masih belum bercambah menjadi sebuah budaya, tidak seperti di Timur Tengah mahupun negeri jiran kita Indonesia. Mengapa demikian, walhal, bukankah rumah-rumah ALLAH di Malaysia ini luar biasa mewah dan selesa kondisinya?

Maka marilah kita rezebkan sebahagian annual leave kita, untuk kita bersama beriktikaf di 10 malam terakhir Ramadhan yang mulia. Agar ketenangan dan kebahagiaan, merasuk ke dalam jiwa.

Monday, September 18, 2006

Zakir Naik's reply on my invitation to come to Malaysia

Faridul: Saya telah menulis email kepada al-fadhil Dr. Zakir Abdul Karim Naik, pakar perbandingan agama daripada India, menjemput beliau untuk datang sekali lagi berda'wah di Malaysia. Berikut adalah reply daripada pihak beliau. Jika ada mana-mana pihak -NGO-NGO Islam atau pertubuhan pelajar- yang berminat menjadi penganjur kedatangan beliau, diharap dapat menghubungi saya seberapa segera.

17th September, 2006

Dear Brother Faridul Farhan,

As-salaamu-alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

I hope you and your family are fine by the grace of Allah (swt). Aameen! Jazakallah and thanks for your letter dated 14th September 2006. Jazakallah for inviting Dr. Zakir Naik to Malaysia.

Before we accept your invitation, we would appreciate if you could reply to our following queries :-

1) Details of yourself and the organisation wanting to host Dr. Zakir Naik’s lectures?

2) What is the number of lectures planned by you?

3) Is the audience expected to be conversant in English?

4) What is the approximate number of people expected to attend the programme at each venue?

5) Would it be possible for you to categorise the audience as consisting of doctors, engineers, intellectuals, students, general public, etc. at the different venues.

6) How many Non-Muslim do you expect for each venue?

7) What are the names of the venues, and what is the seating capacity of each hall / auditorium?

8) What kind of publicity do you intend doing for the programmes?
a. Quantity and size of Handbills,
b. Posters,
c. Banners,
d. Newspaper Ads,
e. Cable TV Ads etc.

9) Your suggestion on the tentative dates of the lecture tour alongwith the numbers of days required.

10) Please could you give us the details of the Islamic programmes organised by you in the past?

We shall, Inshallah, communicate with you further on receiving your reply to our queries.

Please acknowledge receipt - we look forward to your reply. I thank you for your interest in our activities and for correspond­ing with us. Do visit us when you visit India.

May Allah (swt) shower His Choicest Blessings on the entire Muslim Ummah and help us in our mission of bearing witness to the truth of Islam before all mankind. Aameen.

Yours in the service of Islam,


MAQBOOL BARWELKAR
Public Relation Manager

Friday, September 15, 2006

STREPSILS (GULA-GULA BATUK)

STREPSILS (GULA-GULA BATUK)

Oleh: faridul farhan abd wahab


AlhamduliLLAH, saya sudah selesai “signing off” sempena “On Job Training” (OJT) company saya. Suka dan duka perjalanan prosesnya, dengan tekak yang kering dan selsema yang teruk, dengan demam yang mengintai-intai, tetap membuahkan rasa syukur di dalam diri buat Ilahi di atas segala yang telah disuratkan oleh-Nya.

Sungguhpun menghadapi minggu ini dengan tekak yang sebegini, tetap saja saya diminta mengimamkan solat, memberikan tazkirah, dan lain sebagainya. Sehingga menekadkan saya membuahkan suatu kesimpulan: betapa berharganya kata-kata, kepada manusia!

Sebaik-baik perkara ialah: Perkataan yang lembut, yang dikeluarkan dari lautan yang dalam, daripada lidah seorang yang lemah-lembut[1].

Syeikh da’wah tersohor, Muhammad Ahmad ar-Rasyid kelihatan senggaja memperkenalkan method penulisannya, tatkala memulakan bicara di dalam karangan monumentalnya al-Munthalaq. Keindahan kata, dengan menyelitkan puisi ataupun kata-kata puitis, semacam menjadi trademark sang penulis buku-buku best seller ini. “Bersama fitrah keindahan” kata beliau, tatkala memperkuat lagi memperkukuhkan lagi bicaranya itu, agar para da’ie Muslim harap-harapnya, dapat memperbaiki gaya penyampaian lagi memperindah sasterakan ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan mereka, supaya lenggok bahasa mereka bisa mencairkan hati siapa sahaja, seperti Romeo mencairkan Juliet hendaknya.

Saya sebetulnya setuju dengan pandangan beliau, sungguhpun nukilan karya saya kebelakangan ini, sering kering daripada disirami bahana syair mahupun puisi. Kata-kata yang baik lagi tepat, bisa merungkaikan masalah apa sahaja –insyaALLAH- sepertimana gaya bicara wakil Muslimin di Habsyah, Ja’far ibnu Abi Talib tatkala berbicara indah demi meyakinkan Raja Habsyah tatkala wakil Quraisy memujuk rayu beliau, seperti mana yang di-ibrahkan oleh Munir Muhammad Ghadban di dalam Manhaj Harakinya.

Kepentingan susunan kata-kata: Bukan calang-calang!

Lihatlah sahaja bagaimana dengan susunan kata-kata yang bijak, seorang pengikut Nabi Musa A.S bisa menegur dan memberi saranan kepada Firaun, sedang keimanan masih bisa ia sembunyikan.

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.”
(Surah Ghafir [40]:28)

Seandainya sang beriman itu menyatakan “kiranya dia benar” terlebih dahulu sebelum menyatakan “kiranya dia dusta”, maka sudah barang tentunya motif saranan yang ia lemparkan kepada Firaun, pasti dapat dikesan oleh sang mahazalim itu, lalu bukan sahaja ideanya ditolak, tetapi bahkan dirinya itu pasti akan dibinasakan.

Susunan kata-kata jugalah yang memainkan peranan, tatkala ghulam yang beriman di dalam kisah ashabul ukhdud (lihat surah al-Buruj) menyiapkan prosedur akan cara-cara menewaskan dan membunuh dirinya kepada raja dikatator yang zalim itu. Sehinggakan sang raja yang pada awalnya mahu menghapuskan seorang sahaja sosok individu yang beriman, kemudiannya bahkan melahirkan sebuah masyarakat yang semuanya beriman, sehinggakan terpaksa di campakkan ke parit yang marak dengan api yang menjulang!

Begitulah keajaiban kata-kata. Bahkan, Hisyam Soqr ketika membahaskan kisah ini di dalam bukunya “Ghulamud Da’wah”[2] memetik berbagai macam pelajaran di dalam bermacam jenis situasi yang dihadapi oleh sang Ghulamyang mana ia menampilkan keindahan dan ketelitian susun alur kata-kata.

Anis Sorosh pemidato yang hebat!

Dalam banyak-banyak pendeta dan paderi yang berbahas dengan Syeikh Ahmed Deedat, maka Anis Sorosh, seorang warga Palestin beragama Kristian, adalah di antara salah seorang penentang yang hebat. Dengan kehebatannya berkata-kata, tentu mengagumkan siapa sahaja. Jika bukan kerana kebenaran itu datang daripada ALLAH, maka sudah barang tentu ramai yang terpedaya dengan hujah yang beliau keutarakan.

Angka 250,000 umat Malaysia yang murtad, sewajarnya menyimpulkan kita dengan suatu perkara, bahawa susunan kata-kata memainkan peranan yang besar di sini. Berapa ramai sudah umat disesatkan lantaran termakan kata-kata dan bicara yang hebat lagi meyakinkan?

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”
(Surah al-Baqarah [2]:204)

Itulah sebabnya Nabi SAW sendiri memperingatkan akan peri pentingnya kata-kata ini tatkala berhadapan dengan masyarakat, lantaran output yang ingin dihasilkan sangat bergantung kepada sejauh mana keberkesanan input yang kita hadirkan lewat kata-kata.

“kami diperintah supaya berbicara kpd manusia menurut kadar aqal (kecerdasan) mereka masing-masing”
(HR Muslim)[3]

Kerana pulut, santan binasa. Kerana mulut, badan binasa!

Pepatah Melayu yang memperingatkan betapa kata-kata bisa memusnah dan memakan diri, sangat bertepatan dengan saranan ulama’ akan peri pentingnya aafatul lisan (memelihara lidah), sehinggakan “imam akhlaq” al-Ghazali menukilkan satu bab khas tentangnya di dalam kitab Ihya’ Ulumuddinnya.[4]

Marilah kita renungkan sejenak potret hidup kita, sudah berapa ramai insan yang kita lukai, atau kita kecewakan, hanya dengan kelemahan kita bermain kata-kata? Sedang para penyeru kebatilan, sudah berapa ramai mereka sesatkan, hanya bermodalkan kebijaksanaan mereka menutur bicara?

Sayang seribu kali sayang, berapa ramai di kalangan kita yang sememangnya dianugerahi dengan kelebihan menyusun bicara, namun tidak ia manfaatkan untuk menyeru umat kepada cahaya Islam? Sedang yang tersisa di kalangan mereka –contohnya saya- yang terpaksa berhempas pulas lagi berhati-hati menyusun kata dan memperbaiki method berbicara, tetapi dengan segala kelemahan ini, tetap menyerahkan jiwa dan raga demi menyeru umat kepada Islam. Apalah erti potensi anda berbicara, kiranya tidak kalian ucapkan “sebaik-baik bicara”?

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
(Surah al-Fushilat [41]:33)

Biarlah saya tidak mempunyai potensi berbicara seperti anda, namun setidak-tidaknya saya punyai keazaman dan kesungguhan untuk muncul sebagai “pembela.” Pembela agama daripada gejala kemurtadan. Pembela adik-adik remaja daripada gejala kehancuran. Pembela kebenaran daripada terus dihina-hinakan. Sedangkan anda yang mahir bicara, ke sudut manakah telah anda corongkan suara dan percakapan indah kalian? Kepada kebenaran, atau kepada kebatilan?

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kami lah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”
(Srah as-Shaff [61]:14)

Inilah yang saya pelajari, daripada tekak kering yang membelenggu diri. Sungguhpun sudah berapa paket gula-gula batuk saya telan, tetap tidak mengkontribusi kepada pemulihan tekakku ini. Kenapa? Kerana when I am ill, it is ALLAH who cures me.[5]

RUJUKAN

[1] Taarikhul Baghdaad: 14/209. Perkataan ini adalah perkataan yahya Bin Mu’az.

[2] Sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu dengan tajuk “Iman dan harakah”

[3] Rujuk hadith ini di dalam buku M. Natsir, “Fiqhud Da’wah”, ms. 159

[4] Rujuk syarah kitab ini oleh Sa’id Hawwa di dalam Tazkiyatun Nafs-nya.

[5] Surah as-Syuara’ [26]:80

Thursday, September 14, 2006

ELECTRICAL SYSTEM

ELECTRICAL SYSTEM
Oleh: Engr. Faridul Farhan Abd Wahab
(faridul.blogspot.com)

Minggu ini adalah giliran saya untuk “sign off”, yakni untuk di-interview oleh superior-superior saya tentang seluruh sistem yang ada di dalam power plant ini, sebagai salah satu syarat dan penilaian terhadap prestasi kerja saya selama ini. Bahkan, sehingga detik ketika artikel ini ditulis, saya masih menunggu-nunggu untuk dipanggil oleh superior-superior saya, guna menyambung kembali persembahan saya kepada mereka, mudah-mudahan saya bisa menguasai selok-belok power plant ini dengan jayanya.

Satu hal yang harus anda tahu, wahai pembaca sekalian, bahawa power plant itu bukanlah sebuah tumbuhan, seperti definisi perkataan “plant” yang mungkin sesetengah yang anda jangkakan. Power Plant bukanlah didefinisikan sebagai “tumbuhan yang power”. Atau tongkat ali. Atau makjun kuat, dan sebagainya. Power Plant, menurut terjemahannya di dalam bahasa Melayu, adalah “loji janakuasa elektrik”, iaitu pusat di mana elektrik dihasilkan, sebagai memenuhi prinsip keabadian tenaga yang kita pelajari di bangku sekolah dan universiti.

Bagaimana pula dengan susun jalur prosesnya? Bagi power plant saya, kami adalah thermal power plant yang menggunakan arang batu sebagai bahan bakarnya. Arang batu itu diangkut oleh sebuah conveyor, sebelum dihancur-lumatkan dan dibakar, lalu pembakaran itu -yang berlangsung di dalam boiler- menukarkan air kepada stim bertekanan tinggi, lalu stim tadi memutarkan turbin, lalu turbin bertenaga kinetik itu di”terjemah”kan ke tenaga elektrik oleh sang generator. Prosesnya adalah umpama lampu basikal, tenaga kinetik sang tayar (dalam kes kami: stim) memutarkan dynamo (kes kami: turbin) yang kemudiannya menghasilkan tenaga elektrik. Begitulah al-kisah riwayat hidup sebuah power plant. Anda bisa mengerti kini, bukan?

Lalu, dari sekian banyak sistem yang telah saya ketengahkan -daripada pengangkutan arang batu, kepada keluk pembakaran bernama boiler, kepada sang pemutar bernama turbin, dan juga sistem-sistem lainnya seperti sistem penyejukan, sistem penapisan asap, dan lain-lain lagi- bisa kita fahami, bahawa demi sesungguhnya, sesebuah power plant itu justeru lebih banyak cabang-cabang Mechanical Engineering-nya berbanding Electrical System-nya. Electrical System hanya muncul di akhir cerita. Sebagai natijah. Di generator.

Maka, bayangkan sahaja apa yang harus saya lalui: menguasai bidang mechanical engineering dan chemical engineering, sedang saya adalah lulusan Electrical Engineering! Namun, keyakinan dan kebergantungan kepada ALLAH as-Sami’ al-Alim menguasai segalanya.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Surah al_Baqarah [2];216)

“…kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
(Surah an-Nisa’ [4]:19)

“..Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Surah al-Baqarah [2]:282)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(Surah al-Ankabut [29]:69)

Sungguhpun begitu, Electrical System justeru harus hadir sejak awalnya lagi, kerana tanpa mengimport tenaga elektrik, bagaimanakah kiranya anda dapat menggerakkan conveyor, menghidupkan api untuk pembakaran, mengepam air untuk proses penyejukan, dan tentunya mengoperasikan power plant itu di waktu malam. Maka, itulah sebabnya kita mengimport elektrik terlebih dahulu sebelum kita mengeksportnya kemudian, kerana kita perlukan motor untuk menggerakkan conveyor, menghidupkan kipas, dan mengoperasikan pam. Ertinya kisah sebuah power plant adalah: di awalnya elektrik, di akhirnya juga elektrik.

Lebih kurang begitulah saya memulakan bicara, tatkala di-interview oleh superior-superior saya. Saya katakan; di dalam operasi sesebuah power plant, di awalnya harus ada Electrical System, dan di akhir kesudahannya, menatijahkan Electrical System. Kita mengimport Electrik, untuk kita mengeksportnya kembali. Begitulah aturan kehidupan; what we get, we give back. Erti hidup pada memberi; terang saya pada bos-bos, yang alhamduliLLAH diselangi dengan ukiran senyuman di wajah mereka.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Surah Ibrahim [14]:7)

Begitulah dengan kehidupan kita, wahai manusia! Bak nukilan Ibnu Kathir di dalam “Awal dan Akhir”[1]; “di awalnya ada ALLAH sendiri. Lalu IA menciptakan arasy-Nya di atas air. Setelah itu IA menciptakan pena. Kemudian dengan pena itulah IA menitahkan penulisan semua makhluk yang akan IA ciptakan di alam raya ini: langit, bumi, malaikat, manusia, jin hingga syurga dan neraka. Dengan pena itu juga IA menitahkan penulisan semua kejadian –dengan urutan-urutan dan kaitan-kaitannya pada dimensi ruang dan waktu yang akan dialami makhluk-makhluknya.”

Tiba-tiba bahasan sejarah bermula dengan cerita tadi. Sejarah terbentang sebagai sebuah cerita penciptaan tanpa henti, yang bisa disimpulkan dengan suatu rumus yang mudah: Dari ALLAH awalnya, dan kelak kepada-Nya jua akhirnya.

Begitulah susun-galur “power plant” kehidupan. Setiap kehidupan adalah sebenarnya hasil “karya” ALLAH. Dan hidupnya hidupan-hidupan ini adalah di “premis” milik ALLAH, dengan mendapat subsidi udara, tubuh badan, cahaya lain sebagainya, juga daripada ALLAH. Maka daripada ALLAH kita datang, kepada-Nyalah kita semua akan kembali. Kita mendapat nikmat yang cukup banyak daripada ALLAH, maka membalasi “budi” ALLAH ini dengan beribadah dan membela agama Islam sudah pasti menjadi suatu kewajipan yang perlu dan harus kita laksanakan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(Surah az-dzariat [51]:56)

Hidup yang tidak berdasarkan membawa manfaat buat umat dan agama, hanyalah umpama hidupnya lalang di sebuah dataran. Campakkanlah benihnya ke tanah apa pun, nescaya hiduplah sang lalang tersebut. Kondisi yang sama juga dilalui oleh benih jagung. Campakkanlah ia ke mana pun, nescaya tetap ia hidup bernyawa.

Maka orang mukmin harus seperti benih jagung. Ke mana pun ia dicampak, dakwah dapat hidup subuh, membawa manfaat untuk umat sejagat. Jangan seperti benih lalang, hidupnya hanya untuk ditebas orang. Banarlah sabda Nabi-Nya yang mulia; “sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat untuk yang lainnya.”[2]

Sekali lagi diperingatkan, erti hidup adalah pada memberi. Apalah ertinya sebuah generator, mampu menghasilkan sekian ribu MWatt, tetapi apabila diperlukan, ia gagal untuk mengeksport elektrik, yang lantas masyarakat hidup di dalam kegelapan. Biarlah kapasiti Electrical System yang dihasilkan kecil, tetapi sentiasa mampu membekalkan penduduk dengan bekalan tenaga elektrik.

Setiap anda telah mendapat “elektrik” untuk memulakan “power plant” kehidupan, wahai saudaraku. Maka sudahkah anda bersedia untuk “mengeksport elektrik” pula?

RUJUKAN

[1] Majalah “Tarbawi”, Edisi 79, 4 Maret 2004M, Ruangan “Serial Cinta” oleh M. Anis Matta.
[2] Hadith ini boleh didapati di dalam buku “Risalah usrah Ikhwanul Muslimin”. Ianya turut termuat di dalam doa rasmi Sekolah Dato’ Abdul Razak, Seremban. Berkenaan darjat hadith ini, dipersilakan sesiapa yang tahu untuk mentahqiqkannya.

Wednesday, September 13, 2006

MY TEAM

MY TEAM
Oleh: Engr. Faridul Farhan Abd Wahab

(justeru saya sangat sibuk. Minggu ini saya dikehendaki untuk “singn-off”, yakni diinterview oleh superior saya berkenaan seluruh system di dalam power plant ini, sebagai penilaian prestasi kerja saya. Ertinya, saya sebagai lulusan Electrik, harus menguasai bidang Mekanikal, Chemical, dan sebagainya! Juga saya masih ada 10 drawing untuk direview, kemudian berjumpa superior saya, kemudian Owner’s Engineer, kemudian Plant Manager, kenmudian COO, untuk meminta kelulusan mereka, barulah komen terhadap drawing saya itu bisa dikeluarkan. Juga, mempersiapkan diri untuk presentation berkenaan kontrak isnin depan, selain melatih Charge-Man baru kami. Namnu, saya tetap mahu istiqamah di atas jalan dakwah ini. Maka terimalah artikel ringkas daripada saya. Maaf kerana tidak bisa mencoretkan secara terperinci buku-buku rujukan yang bisa anda rujuk untuk meyakini hujah yang saya keutarakan)



Tidak lama dahulu, ketika gawang pasukan Manchecter United masih di bawah kawalan penjaga gol terkenal Peter Schmeichel, pertahanan belah kanan Man U; Gary Neville (yang kini terpilih pula sebagai kapten pasukan tersebut) mengeluarkan sebuah kenyataan (seperti yang tersiar di dalam majalah rasmi pasukan itu), bahawa (konon-kononnya) pasukan Man U adalah pasukan yang paling bersatu, yang paling kuat kerjasama, sesame pemain-pemainnya. Dan kata-kata sang bek kanan pasukan kebangsaan England ini, ada juga kebenarannya.

Perhatikan sahaja di zaman Dwight Yorke-Andy Cole-Teddy Sheringham-Ruud Van Nistelroy memainkan peranan sebagai peledak merbahaya sekaligus penjaring gol terbanyak. Setiap kali pasukan The Red Devils itu menjaringkan gol, maka semua pemain, termasuk pemain pertahanan yang berada di bahagian bawah, akan datang memeluk dan meraikan jaringan gol rakan sepasukan mereka. Sungguh, hal sedekian (iaitu semangat berpasukan yang tinggi) hanya berlegar di kalangan pemain pasukan man U sahaja, maka, munasabahlah mereka mendominasi Liga Inggeris untuk sekian lamanya.

Suatu hal yang harus kita ingat, wahai saudaraku, bahawa permainan bola sepak adalah sebuah permainan berpasukan. Ada 11 orang pemain yang jika kurang satu, lantaran mendapat kad merah atau sebagainya, sering kali membawa malapetaka kepada pasukan tersebut, sekaligus menjadi sebuah bonus buat pihak lawan. Lihatlah sahaja betapa lumpuhnya calon Juara Piala Dunia 2006 yang begitu diwawarkan, iaitu England, tatkala mereka kehilangan seorang pemain bernama Wayne Rooney. Pantas, potensi mereka bergelar juara pada temasya berprestij itu, bertukar arah dalam sekelip mata. Hal yang sama jugalah berlaku tatkala sang kacak David Beckham dibuang padang ketika pertemuan bersama Argentina pada temasya yang sama pada tahun 1998 yang telah lalu.

Itulah bola sepak. Anda harus ingat –sekali lagi- bahawa permainan bola sepak adalah sebuah acara berpasukan. Dan setiap pasukan, harus hadir dengan formasi dan susunannya, sama ada 4-4-2, 4-3-3, 3-5-2, lain sebagainya. Pokoknya, harus ada yang memainkan peranan sebagai pertahanan, ada pula di bahagian midfield, ada juga di bahagian serangan. Bola sepak bukanlah sebuah permainan Superman, yang anda bisa bersendirian menawan padang bola sepak itu, umpama Rambo yang (kononnya) bersendirian menawan Afghanistan 9walhal mujahidinlah orangnya yang menghalau keluar Beruang Merah Russia dari bumi umat islam itu).

Barangkali itulah sebabnya, pasukan berbariskan bintang seperti Real Madrid, sudah sekian banyak tahun ketandusan gelaran dan piala kemenangan. Kerana sungguh, permainan bola sepak tidak bergantung kepada potensi individualistic semata-mata, bahkan semangat berpasukan, kerjasama dan persefahaman bisa merungkai permasalahan itu. Agaknya itulah juga rahsia pasukan kerdil bernama Greece bisa menumbangkan pasukan-pasukan lain bertaraf gergasi, sehingga mereka akhirnya tersohor lantaran dinobatkan Juara eropah pada temasya 2004 yang lalu.

Maka, jika anda hairan mengapa umat islam, sungguh pun dianugerahkan oleh ALLAH dengan sumber alam yang sangat banyak, tetapi tetap hidup terhina dan menderita, sehingga tahap dipermainkan dan diperbodohkan oleh Israel dan Negara Barat, adalah kerana umat islam tidak “bermain” seperti satu pasukan. Adalah kerana umat Islam tiada di dalam kamus hidupnya semangat bekerjasama. Adalah kerana umat islam belum bersedia untuk berlapang dada menerima perbezaan pendapat sehingga terbantutlah usaha penyatuan dan perpaduan. Sudahkah anda lupa betama ni’mat ukhwah anugerah ALLAH inilah yang bisa menyelamatkan kita daripada “jurang” apa pun, sama ada “jurang” kekejaman kelolaaan Yahudi, mahupun jurang kehancuran akibat perang pemikiran (al-ghazwul fikri).

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
(Surah ali Imran [3]:103)

Mereka terlalu bangga dengan “nama” dan “jenama” mereka, lalu menyeru umat bersatu atas dasar itu; iaitu dasar “kelompok”. Kenapakah mereka tidak mengikut jejak langkah para nabi dan salafus shalih, yang menyeru umat pada aqidah yang satu, lalu menjelmakan diri mereka dengan “jenama” “AKU SEORANG MUSLIM”?

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
(Surah al-Anbiya’ [21]:25)

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.(dan kami semua adalah orang-orang Muslim)"
(Surah ali Imran [3]:84)

Menafikan dan menghalang peranan yang dimainkan oleh gerakan-gerakan Islam lain yang berbeza “jenama” dengan kita, sedangkan ia sebetulnya bermain di “posisi” yang berlainan, merupakan suatu kerugian yang besar kepada “pasukan” umat Islam ini. Sehinggakan Syeikh Abdullah Azzam memperingatkan kita dengan pesanan[1] yang lebih kurang begini bunyinya; “sesungguhnya gerakan-gerakan Islam umpama anak-anak sungai yang mengalir daripada sungai yang besar. Jika kalian menghalang salah satu anak sungai itu, maka kalian telah menghalang rahmat yang besar.”

Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai gerakan islam terbesar dan tersohor sangat memahami erti semangat berpasukan sebegini. Sehinggakan mereka tidak sahaja menitik beratkan “ukhwah” di kalangan sesama mereka, bahkan menyeru semua gerakan islam untuk bersatu dan bekerjasama di dalam “perlawanan” menentang musuh ini, dan belapang dada di atas “tackle” rakan sepasukan ketika “latihan bola sepak” yang dilaksanakan. Perhatikanlah kaedah Rasyid Ridha yang menjadi siulan ulama’-ulama’ Ikhwan; “Kita bekerjasama di dalam hal yang kita sepakati, dan kita berlapang dada di dalam hal-hal yang tidak kita sepakati.”

Siapalah pemain penyerang yang menerima anugerah kasut emas, andainya tiada pemain midfield yang menghulurkan bola buatnya untuk menjaringkan sekian banyak gol? Siapalah pemain tengah yang disegani ramai selaku perancang pasukan, jika tiada penjaga gol yang mengawal gawang dan menyelamatkan pasukannya daripada dibolosi lalu menerima tamparan kekalahan?

Lalu siapalah kita wahai sang pendakwah tatkala kalian menafikan usaha dakwah sahabat ‘sebidang” anda di “posisi” yang berlainan? Ada yang melepaskan dosa anda dengan berdakwah kepada non-Muslim. Ada yang melepaskan kesibukan anda untuk memajukan umat dengan menceburi R&D sains dan al-Quran. Ada yang menyelamatkan anda daripada menginfakkan seluruh harta anda demi mengeluarkan umat daripada belenggu kemiskinan, dengan cara memajukan ekonomi Islam. Ertinya, setiap mereka ada peranan masing-masing pada posisi masing-masing. Lalu, atas dasar apa anda mempermasalahkan sumbangan mereka?

Sungguh, rahsia kejayaan sesebuah pasukan tidaklah terletak pada barisan pemain bintangnya. Tidaklah juga terletak pada kebesaran dana kewangannya. Tetapi justeru terletak kepada setakat mana 11 orang pemain di atas padang, dan barisan pemain simpanannya, dan barisan pegawai pasukannya, bekerjasama di dalam sebuah pasukan, dan memaafkan khilaf dan kesalahan sesama mereka. Inilah rahsianya. Inilah kaedahnya. Kita bekerjasama di dalam hal yang kita sepakati, kita berlapang dada di dalam hal yang tidak kita sepakati.

Kita berkumpul di atas dasar yang satu, di atas aqidah yang satu, di bawah panji penyatuan pemikiran yang satu. ALLAH Tuhan kami. Ar-Rasul Muhammad SAW ikutan kami. Al-Quran perlembagaan kami. Jihad fi sabiliLLAH jalan kami. Mati syahid cita-cita agung kami.

Inilah “My team” yang kita idam-idamkan. Maka marilah kita menyokong pasukan “Muslimin” ini. Mudah-mudahan World Cup atau Champions league akan bisa dimenangi pasukan ini, insyaALLAH.

RUJUKAN

[1] Ibnu Ismail, “Merintis Khilafah Yang Hilang”, terbitan Pustaka Syuhada’. Buku ini adalah kisah hidup dan perjuangan Syeikh Abdullah Azzam.

Tempat untuk berbuka puasa di KL dan Selangor

(Faridul: Artikel ini sebenarnya adalah daripada "circulation" email antara rakan sepejabat saya. Untuk memahaminya, saya warnakan setiap email/ reply email dengan warna yang berlainan. AlhamduliLLAH, tidak ada yang melenting menerima "reply email" saya ini. Moga-moga nasihat saya buat rakan sepejabat ini akan bisa merasuk ke kalbu mereka. Doakan ya... amin ya Rabbal 'alamin...)
1st Email (untuk memendekkan cerita, saya buang separuh daripada senarai hotel-hotel..)

amacam leh kiter pi buka yek...

ASEANA CAFESuria KLCC City Centre
Reservations: 603 - 382 0395
Price: RM29.75++ per person
A Selection of choice that may include Kerabu Paru Paru, Gado Gado Rojak Buah, Ulam Ulam, Daging Masak Hitam, Ayam Sambal, Talang Masin Gulai Lemak Nenas, Kacang Panjang Goreng & Hati to name a few. This buffet Menu changes daily.
A&V LAZAR GRILL RESTAURANT
1st Floor, Suria KLCC City Centre
Reservations: 603 - 2380 5700
Price: RM29.00++ per person
A mixed of traditional Malay & Western cuisines.
BINTANG SHACK RESTAURANT
Jalan Bukit Bintang
Reservations: 603 - 2142 4009
Price: RM28.00nett per adult and RM16.00nett per child
Experience adifferent style of Berbuka puasa at Bintang Shack.
Lain-lain (saya delete, but you get the picture, right?)
Faridul's reply
Masjid-Masjid
Price: free, tapi bisa memberi sumbangan seberapa yang mahu
Makan beramai-ramai di masjid bisa mengeratkan lagi ukhwah islamiyah…
Collegue's reply
Betul Faridul… aku sokong. hehehehe…..
1st Email Originator's reply
Ala Dul…terase ahkak…uhukuhuk

Faridul's reply:

Sebenarnya gini, hari raya Aidil Fitri.... ”aid” maksudnya raya, “fitri” maksudnya fitrah. Maka bila berakhirnya ramadhan, kita “merayakan” kejayaan kita kembali kepada “fitrah” (sepatutnya).

So, fitrah yang bagaimana yang kita maksudkan?

Fitrah yang (sepatutnya) terbina sepanjang berlakunya bulan Ramadhan.

Firman ALLAH: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”
(surah ar-Rum[30]:30)

Dalam bulan Ramadhan, kita berpuasa di siang hari.
Kita menunaikan zakat “fitrah”.
Kita bangun awal untuk bersahur (dan… alang2 bangun awal, utk berqiamul lail sepatutnya)
Malam kita sibuk untuk solat tarawikh
Dekat2 hujung Ramadhan, kita pulang ke kampong.

Maka, itulah sepatutnya fitrah manusia. Dgn berpuasa, mudah2an kita ingat kat orang susah, maka sepatutnya berbuka puasa pun menggambarkan bahawa kita tetap ingat kat orang susah. Saudara2 kita di palestin, di Lubnan… subhanaLLAH, mudah2an dgn berpuasa, kita ingat mereka semua.

Kita kembali ke fitrah kita yang suka beribadat.

Kita kembali ke fitrah kita yang perlu berukhwah dan ingat keluarga kita, insyaALLAH.

Saya pun masih belajar. Mudah2an Ramadhan ni kita dapat sama-sama nasihat-menasihati agar kita semakin dekat kepada ALLAH. Seumpama inilah Ramadhan terakhir kita, isilah ia kerana belum tentu kita kan menemuinya lagi…

P/S – apa kata dalam bulan Ramadhan ni, during lunch time kita jemput orang palestin untuk memberikan sedikit ceramah berkenaan pengalaman beliau di palestin?
Perodua pun ada jemput warga palestin ni berceramah hari tu..alhamduliLLAH sambutannya sangat baik.

Sekadar cadangan….


Thursday, September 07, 2006

Isteri Solehah Berbicara (artikel lama, sempena protes terhadap kebiadaban kartunis Denmark)


Dunia dan akhirat ibarat dua isteri yang bermadu. Saling cemburu-mencemburui. Apabila kita berpaling pada dunia, soal akhirat ketinggalan, apabila kita menumpukan pada akhirat, dunia kita ketinggalan. Pada hakikatnya, dunia dan akhirat saling memerlukan. Kita memerlukan dunia untuk sampai ke negeri akhirat. Kerja kita, study kita, apa saja yang kita buat saban hari kalau niat dikerjakan kerana Allah swt, insyaAllah akan selamat dunia dan akhirat. Allah akan mengiranya sebagai ibadah.

Umat Islam kini bangkit. Itulah yang saya nampak selepas isu kebiadaban kartunis Denmark baru-baru ini. Umat islam satu dunia mengadakan demonstrasi termasuk di negara kita sendiri. Alhamdulillah...Maha Suci Allah...Maha Suci Allah..semoga kita semua selepas ini terus sedar dan bangkit dari tempat duduk kita yang empuk dan selesa. Apa yang kita tunggu lagi?. Kuffar secara terang-terangan menghina Penghulu kita Baginda Rasulullah saw. Apakah sekadar kita berdemo sahaja? Tidak ! kita harus bangun, bangun untuk menyedarkan rakan-rakan kita yang masih belum sedar, yang masih lalai dan alpa dengan keseronokan dunia, yang dijajah pemikirannya dengan ideologi barat, yang hanya sibuk mencari harta dunia sahaja, yang malu jika dirinya tampil dengan identiti muslim, dan yang bermacam-macam lagi.

Jika sekiranya kita tidak pernah bangun bertahajud, gagahkanlah mata dan kakimu untuk bangun bertahajud sahabatku, jika kita sudah lama tidak menyentuh kitab suci al-Quran, ringankan lah tanganmu untuk membukanya dan ringankanlah mulutmu untuk mengalunkan ayat-ayat suci al-Quran. Hayatilah terjemahannya dan dengan itu mudah-mudahan kita bukan lagi seperti semalam, umat islam yang lemah, tidak ada hala tuju, tidak ada matlamat hidup sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, tetapi kita hari ini adalah umat islam yang sentiasa dahagakan ilmu agama, yang komitmen dengan halaqah dan usrah, yang berpegang teguh menonjolkan prinsip hidup seorang muslim, dan sentiasa berani di atas kebenaran islam di mana-mana sahaja, bila-bila masa sahaja tanpa mengira tempat dan situasi.

Tuesday, September 05, 2006

BIOLOG

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Di makmal 409, ada sebuah mesin berkomputer yang kerjanya ialah untuk mengenalpasti jenis bacteria yang dikaji. Mesin ini ialah Biolog. Untuk mengenal pasti nama bacteria yang saya temui, saya akan gunakan khidmat mesin biolog ini. Ia akan memaparkan nama bacteria pada skrin computer dengan cepat tanpa perlu kita bersusah payah membuat biochemical test yang macam saya buat masa zaman degree dulu. Namun begitu, mesin ini selalu menguji keyakinan saya terhadap ketepatannya kerana tidak semua bacteria yang saya biolog akan dapat dikenalpasti. ‘No ID’ jawab mesin ini di skrin. Antara kemungkinan bacteria tidak dapat dikenalpasti ialah kerana bacteria yang dikaji tidak terdapat dalam database biolog itu sendiri. Oleh itu, bagaimana ia hendak mengeluarkan nama bacteria tersebut? Oleh sebab itu, kita sebagai user harus sentiasa meng’update’ database dalam biolog ini supaya bakteria-bakteria baru yang sentiasa ditemui dari semasa ke semasa oleh para penyelidik akan dimasukkan ke dalam database biolog.

Sahabat sekalian, begitu juga dengan kita sebagai makhluk Allah yang sempurna dan mempunyai akal yang waras. Gunakanlah akal fikiran ini untuk mengupdate diri kita sendiri. Update lah diri anda setiap hari agar sentiasa ada ilmu-ilmu baru yang masuk ke benak fikiran dengan cara membaca dan bertukar-tukar fikiran. Update lah diri anda setiap hari agar pahala bertambah dan graf keimanan anda meningkat dengan pelbagai amalan seperti berzikir, usrah, halaqah, menolong orang, beristighfar, bermuhasabah, membaca al-quran, solat sunat, sedekah, berukhwah dan sebagainya. Sahabat sekalian, bayangkan dalam satu hari, kita langsung tidak mengupdate diri kita (selain membuat ibadat yang wajib)? Malah, kita terukkan lagi keadaan dengan mengumpat, bergosip, menfitnah, berbual kosong yang tidak ada manfaat (dll), keadaan diri kita (umpama) lebih teruk lagi daripada mesin biolog yang tidak berakal tadi! Alangkah malangnya kalau kita masih lagi tidak merasa apa-apa kerugian. Allah mengatakan di dalam al-quran (surah al-‘asr), orang yang tidak mengupdate kan diri adalah manusia yang rugi tetapi orang yang mengupdate kan dirinya adalah orang yang beruntung. Maksud surah al-‘asr:

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Sahabat sekalian, semoga hari ini kita menjadi lebih baik daripada semalam, dan semoga hari esok kita menjadi hamba Allah yang lebih baik daripada hari ini. Akhirul kalam, peringatan buat kita bersama, “Ingatlah tuhanmu di waktu kamu senang, nescaya Allah akan mengingatimu di waktu kamu susah”. Wassalam.

- Artikel ini adalah hasil nukila Puan Nur Hanani Makhtar. Mudah-mudahan ALLAH mudahkan dan ilhamkan beliau agar dapat terus berkarya demi membela agama suci ini.

"Kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, kita berlapang dada dalam hal yang tidak kita sepakati"

[wehdah islamiyyah]: Mutiara nasihat

Sang murobbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah. Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah Ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

Ukhwah.com :: Top Blog